Featured Post Today
print this page
Latest Post
Tampilkan postingan dengan label budidaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budidaya. Tampilkan semua postingan

Budidaya Ternak Itik Bebek Petelur

1. SEJARAH SINGKAT
Itik dikenal juga dengan istilah Bebek (bhs.Jawa). Awalnya bebek berasal dari Amerika Utara merupakan itik liar (Anas moscha) atau Wild mallard. Terus menerus dijinakkan oleh manusia hingga jadilah itik yang diperlihara sekarang yang disebut Anas domesticus (ternak itik).

2. SENTRA PERIKANAN
Secara internasional ternak itik terpusat di negara-negara Amerika utara, Amerika Selatan, Asia, Filipina, Malaysia, Inggris, Perancis (negara yang mempunyai musim tropis dan subtropis). Sedangkan di Indonesia ternak itik terpusatkan di daerah pulau Jawa (Tegal, Brebes dan Mojosari), Kalimantan (Kecamatan Alabio, Kabupaten Amuntai) dan Bali serta Lombok.

3. JENIS
Klasifikasi (penggolongan) itik, menurut tipenya dikelompokkan dalam 3 (tiga) golongan, yaitu:
a. Itik petelur seperti Indian Runner, Khaki Campbell, Buff (Buff Orpington) dan CV 2000-INA;
b. Itik pedaging seperti Peking, Rouen, Aylesbury, Muscovy, Cayuga;
c. Itik ornamental (itik kesayangan/hobby) seperti East India, Call (Grey Call), Mandariun, Blue Swedish, Crested, Wood.
Jenis bibit unggul yang diternakkan, khususnya di Indonesia ialah jenis itik petelur seperti itik tegal, itik khaki campbell, itik alabio, itik mojosari, itik bali, itik CV 2000-INA dan itik-itik petelur unggul lainnya yang merupakan produk dari BPT (Balai Penelitian Ternak) Ciawi, Bogor.

4. MANFAAT
a. Untuk usaha ekonomi kerakyatan mandiri.
b. Untuk mendapatkan telur itik konsumsi, daging, dan juga pembibitan ternak itik.
c. Kotorannya bisa sebagai pupuk tanaman pangan/palawija.
d. Sebagai pengisi kegiatan di masa pensiun.
e. Untuk mencerdaskan bangsa melalui penyediaan gizi masyarakat.

5. PERSYARATAN LOKASI
Mengenai lokasi kandang yang perlu diperhatikan adalah: letak lokasi lokasi jauh dari keramaian/pemukiman penduduk, mempunyai letak transportasi yang mudah dijangkau dari lokasi pemasaran dan kondisi lingkungan kandang mempunyai iklim yang kondusif bagi produksi ataupun produktivitas ternak. Itik serta kondisi lokasi tidak rawan penggusuran dalam beberapa periode produksi.

6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
Sebelum seorang peternak memulai usahanya, harus menyiapkan diri, terutama dalam hal pemahaman tentang pancausaha beternak yaitu
(1) Perkandangan;
(2) Bibit Unggul;
(3) Pakan Ternak;
(4) Tata Laksana dan
(5) Pemasaran Hasil Ternak.

Penyiapan Sarana dan Peralatan
1) Persyaratan temperatur kandang ± 39 ° C.
2) Kelembaban kandang berkisar antara 60-65%
3) Penerangan kandang diberikan untuk memudahkan pengaturan kandang agar tata kandang sesuai dengan fungsi bagian-bagian kandang
4) Kondisi kandang dan perlengkapannyaKondisi kandang tidak harus dari bahan yang mahal tetapi cukup sederhana asal tahan lama (kuat). Untuk perlengkapannya berupa tempat makan, tempat minum dan mungkin perelengkapan tambahan lain yang bermaksud positif dalam managemen
5) Model kandang ada 3 (tiga) jenis yaitu:
* kandang untuk anak itik (DOD) pada masa stater bisa disebut juga kandang box, dengan ukuran 1 m 2 mampu menampung 50 ekor DOD
* kandang Brower (untuk itik remaja) disebut model kandang Ren/kandang kelompok dengan ukuran 16-100 ekor perkelompok
* kandang layar ( untuk itik masa bertelur) modelnya bisa berupa kandang baterei ( satu atau dua ekor dalam satu kotak) bisa juga berupa kandang lokasi ( kelompok) dengan ukuran setiap meter persegi 4-5 ekor itik dewasa ( masa bertelur atau untuk 30 ekor itik dewasa dengan ukuran kandang 3 x 2 meter).

Pembibitan
Ternak itik yang dipelihara harus benar-benar merupakan ternak unggul yang telah diuji keunggulannya dalam memproduksi hasil ternak yang diharapkan.

1) Pemilihan bibit dan calon induk
Pemilihan bibit ada 3 ( tiga) cara untuk memperoleh bibit itik yang baik adalah sebagai berikut :
* membeli telur tetas dari induk itik yang dijamin keunggulannya
* memelihara induk itik yaitu pejantan + betina itik unggul untuk mendapatkan telur tetas kemudian meletakannya pada mentok, ayam atau mesin tetas
* membeli DOD (Day Old Duck) dari pembibitan yang sudah dikenal mutunya maupun yang telah mendapat rekomendasi dari dinas peternakan setempat.Ciri DOD yang baik adalah tidak cacat (tidak sakit) dengan warna bulu kuning mengkilap.

2) Perawatan bibit dan calon induk
a) Perawatan Bibit.

Bibit (DOD) yang baru saja tiba dari pembibitan, hendaknya ditangani secara teknis agar tidak salah rawat. Adapun penanganannya sebagai berikut: bibit diterima dan ditempatkan pada kandang brooder (indukan) yang telah dipersiapkan sebelumnya. Dan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam brooder adalah temperatur brooder diusahakan yang anak itik tersebar secara merata, kapasitas kandang brooder (box) untuk 1 m² mampu menampung 50 ekor DOD, tempat pakan dan tempat minum sesuai dengan ketentuan yaitu jenis pakan itik fase stater dan minumannya perlu ditambah vitamin/mineral.

b) Perawatan calon Induk.
Calon induk itik ada dua macam yaitu induk untuk produksi telur konsumsi dan induk untuk produksi telur tetas. Perawatan keduanya sama saja, perbedaannya hanya pada induk untuk produksi telur tetas harus ada pejantan dengan perbandingan 1 jantan untuk 5 – 6 ekor betina.

c) Reproduksi dan Perkawinan.
Reproduksi atau perkembangbiakan dimaksudkan untuk mendapatkan telur tetas yang fertil/terbuahi dengan baik oleh itik jantan. Sedangkan sistem perkawinan dikenal ada dua macam yaitu itik hand mating/pakan itik yang dibuat oleh manusia dan nature mating (perkawinan itik secara alami).

3) Pemeliharaan
a) Sanitasi dan Tindakan Preventif.
Sanitasi kandang mutlak diperlukan dalam pemeliharaan itik dan tindakan preventif (pencegahan penyakit) perlu diperhatikan sejak dini untuk mewaspadai timbulnya penyakit.
b) Pengontrol Penyakit.
Dilakukan setiap saat dan secara hati-hati serta menyeluruh. Cacat dan tangani secara serius bila ada tanda-tanda kurang sehat pada itik.
c) Pemberian Pakan.
Pemberian pakan itik tersebut dalam tiga fase, yaitu fase stater (umur 0– 8 minggu), fase grower (umur 8–18 minggu) dan fase layar (umur 18–27 minggu). Pakan ketiga fase tersebut berupa pakan jadi dari pabrik (secara praktisnya) dengan kode masing-masing fase. Cara memberi pakan tersebut terbagi dalam empat kelompok yaitu:
* umur 0-16 hari diberikan pada tempat pakan datar (tray feeder)
* umur 16-21 hari diberikan dengan tray feeder dan sebaran dilantai
* umur 21 hari samapai 18 minggu disebar dilantai.
* umur 18 minggu–72 minggu, ada dua cara yaitu 7 hari pertama secara pakan peralihan dengan memperhatikan permulaan produksi bertelur sampai produksi mencapai 5%. Setelah itu pemberian pakan itik secara ad libitum (terus menerus).

Dalam hal pakan itik secara ad libitum, untuk menghemat pakan biaya baik tempat ransum sendiri yang biasa diranum dari bahan-bahan seperti jagung, bekatul, tepung ikan, tepung tulang, bungkil feed suplemen.

Pemberian minuman itik, berdasarkan pada umur itik juga yaitu :
* umur 0-7 hari, untuk 3 hari pertama iar minum ditambah vitamin dan mineral, tempatnya asam seperti untuk anak ayam.
* umur 7-28 hari, tempat minum dipinggir kandang dan air minum diberikan secara ad libitum (terus menerus)
* umur 28 hari-afkir, tempat minum berupa empat persegi panjang dengan ukuran 2 m x 15 cm dan tingginya 10 cm untuk 200-300 ekor. Tiap hari dibersihkan.

4) Pemeliharaan Kandang
Kandang hendaknya selalu dijaga kebersihannya dan daya gunanya agar produksi tidak terpengaruh dari kondisi kandang yang ada.

7. HAMA DAN PENYAKIT

A. Secara garis besar penyakit itik dikelompokkan dalam dua hal yaitu:
1) penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme seperti virus, bakteri dan protozoa
2) penyakit yang disebabkan oleh defisiensi zat makanan dan tata laksana perkandangan yang kurang tepat

B. Adapun jenis penyakit yang biasa terjangkit pada itik adalah:
1) Penyakit Duck Cholera
Penyebab: bakteri Pasteurela avicida.
Gejala: mencret, lumpuh, tinja kuning kehijauan.
Pengendalian: sanitasi kandang,pengobatan dengan suntikan penisilin pada urat daging dada dengan dosis sesuai label obat.

2) Penyakit Salmonellosis
Penyebab: bakteri typhimurium.
Gejala: pernafasan sesak, mencret.
Pengendalian: sanitasi yang baik, pengobatan dengan furazolidone melalui pakan dengan konsentrasi 0,04% atau dengan sulfadimidin yang dicampur air minum, dosis disesuaikan dengan label obat.

8. PANEN

1) Hasil Utama
Hasil utama, usaha ternak itik petelur adalah telur itik

2. Hasil Tambahan
Hasil tambah berupa induk afkir, itik jantan sebagai ternak daging dan kotoran ternak sebagai pupuk tanam yang berharga

9. PASCAPANEN
Kegiatan pascapanen yang bias dilakukan adalah pengawetan. Dengan pengawetan maka nilai ekonomis telur itik akan lebih lama dibanding jika tidak dilakukan pengawetan. Telur yang tidak diberikan perlakuan pengawetan hanya dapat tahan selama 14 hari jika disimpan pada temperatur ruangan bahkan akan segera membusuk.

Adapun perlakuan pengawetan terdiri dari 5 macam, yaitu:
1) Pengawetan dengan air hangat
2) Pengawetan dengan air hangat merupakan pengawetan telur itik yang paling sederhana. Dengan cara ini telur dapat bertahan selama 20 hari.
3) Pengawetan telur dengan daun jambu biji
Perendaman telur dengan daun jambu biji dapat mempertahankan mutu telur selama kurang lebih 1 bulan. Telur yang telah direndam akan berubah warna menjadi kecoklatan seperti telur pindang.
4) Pengawetan telur dengan minyak kelapaPengawetan ini merupakan pengawetan yang praktis. Dengan cara ini warna kulit telur dan rasanya tidak berubah.
5) Pengawetan telur dengan natrium silikatBahan pengawetan natrium silikat merupkan cairan kental, tidak berwarna, jernih, dan tidak berbau. Natirum silikat dapat menutupi pori kulit telur sehingga telur awet dan tahan lama hingga 1,5 bulan. Adapun caranya adalah dengan merendam telur dalam larutan natrium silikat10% selama satu bulan.
6) Pengawetan telur dengan garam dapur, garam direndam dalam larutan garam dapur (NaCl) dengan konsentrasi 25-40% selama 3 minggu.

10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA

1) Analisis Usaha Budidaya


Perkiraan analisis budidaya itik di Semarang tahun 1999 adalah sebagai berikut:.
Permodalan

Modal kerja
Anak itik siap telur umur 6 bl
36 paketx500 ek x Rp 6.000 ================== Rp108.000.000,-
Biaya kelancaran usaha dan lain-lain ============ Rp 4.000.000,-

Modal Investasi
Kebutuhan kandang 36 paket x Rp 500.000,- ======== Rp 18.000.000,-.
Jumlah kebutuhan modal : ===================== Rp 130.000.000,-

Prasyaratan kredit yang dikehendaki:
Bunga (menurun) 20% /tahun
Masa tanggung angsuran 1 tahun
Lama kredit 3 tahun

Biaya-biaya
Biaya kelancaran usaha dan lain-lain ============= Rp 4.000.000,-

Biaya tetap
Biaya pengambalian kredit:

Biaya pengambalian angsuran dan bunga tahun I ===== Rp 14.723.000,-
Biaya pengambalian angsuran dan bunga tahun II ==== Rp 86.125.000,-
Biaya pengambalian angsuran dan bunga tahun III === Rp 73.125.000,-

Biaya penyusutan kandang:
biaya penyusutan kandang tahun I ============== Rp 3.600.000,-
biaya penyusutan kandang tahun II ============= Rp 3.600.000,-
biaya penyusutan kandang tahun III ============ Rp 3.600.000,-

Biaya tidak tetap
Biaya pembayaran ransum:

biaya ransum tahun I ======================== Rp 245.700.000,-
biaya ransum tahun II ======================== Rp 453.600.000,-
biaya ransum tahun III ======================= Rp 453.600.000,-

Biaya pembayaran itik siap produksi:
pembayaran tahun I ========================== Rp 108.000.000,-
pembayaran tahun II -
pembayaran tahun III -

Biaya pembayaran obat-obatan:
biaya pembayaran obat-obatan tahun I ============== Rp 2.457.000,-
biaya pembayaran obat-obatan tahun II ============== Rp 4.536.000,-
biaya pembayaran obat-obatan tahun III ============= Rp 4.436.000,- (Biaya obat-obatan adalah 1% dari biaya ransum)

Pendapatan
Penjualan telur tahun I ======================== Rp 384.749.920,-
Penjualan telur tahun II ======================= Rp 615.600.000,-
Penjualan telur tahun III ======================= Rp 615.600.000,-
Penjualan itik culling 2 x 1.425 x Rp 2.000,- === Rp 5.700.000,-

2) Gambaran Peluang Agribisnis
Telur dan daging itik merupakan komoditi ekspor yang dapat memberikan keuntungan besar. Kebutuhan akan telur dan daging pasar internasional sangat besar dan masih tidak seimbang dari persediaan yang ada. Hal ini dapat dilihat bahwa baru dua negara Thailand dan Malaysia yang menjadi negara pengekspor terbesar. Hingga saat ini budidaya itik masih merupakan komoditi yang menjanji untuk dikembangkan secara intensif.

11. DAFTAR PUSTAKA

[1] Bambang Suharno, Ir. dan Khairul Amri. Beternak itik secara intensif. Penerbit Penebar Swadaya. Tahun 1998
[2] Redaksi Trubus. Beternak Itik CV. 2000-INA. Penerbit Penebar Swadaya. Tahun 1999
[3] Prawoto; Peternak ternak itik. Desa Sitemu Kec. Taman Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah 52361

12. KONTAK HUBUNGAN
Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan – BAPPENAS Jl.Sunda Kelapa No. 7 Jakarta, Tel. 021 390 9829 , Fax. 021 390 9829
Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi, Deputi Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Iptek, Gedung II BPPT Lantai 6, Jl. M.H.Thamrin No. 8, Jakarta 10340, Indonesia, Tel. +62 21 316 9166~69, Fax. +62 21 310 1952, Situs Web:

http://www.ristek.go.id
Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas
http://budidayanews.blogspot.com/2011/01/budidaya-ternak-bebek-petelur.html

0 komentar

Budidaya Tanaman Petsai

Petsai yang dianjurkan ditanam adalah varietas granat denmark, amiliore, dan beberapa hybrid seperti Naga Oka, Waka, Wong Bok, dan lain-lain. Tanaman petsai sukar berbunga.

Petsai banyak ditanam di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1.000 m dpl. Tanaman ini jarang ditanam di daerah dataran rendah karena tidak mau membentuk krop.

Kalaupun membentuk krop, kropnya kecil sekali atau keropos. Adapun syarat-syarat yang penting agar petsai tumbuh adalah tanahnya gembur, subur, dan pH tanahnya 6-7. Petsai banyak diusahakan di Cipanas, Lembang, Pangalengan, Malang, Tosari, Baturiti, Pancasari (Bali), dan lain-lain. Waktu tanam petsai adalah menjelang akhir musim hujan (Maret) atau awal musim hujan (Oktober).

Tetapi perawatan tanaman pada musim hujan akan lebih berat daripada musim kemarau karena serangan ulat daun.

a. Cara Tanam Petsai atau kubis cina dikembangkan dengan biji. Biji petsai masih saat ini masih diimpor.

Untuk 1 ha lahan diperlukan biji kubis cina sebanyak 500-700 gr. Namun menurut teori, 1 ha lahan hanya diperlukan 350 gr biji kubis cina dengan daya kecambah 75 %. Sebelum ditanam, biji disemai dahulu. Untuk membungakan (agar berbiji), biji disemaikan dalam suhu rendah 10 derajat C (suhu kulkas).

Selama 2 bulan. Sebaiknya biji-biji petsai yang akan ditanam itu disemaikan dalam kantong-kantong plastik berukuran diameter 6 cm. Kantong tersebut berisi tanah steril agar timbulnya penyakit busuk akar (damping off) dapat dicegah.

Biji akan tumbuh rata-rata setelah 5 hari disemai. Lahan yang akan ditanami dicangkul sedalam 30-40 cm dan diberi pupuk kandang sebanyak 10-15 ton/ha. Setelah tanahnya diratakan, dibuatkan bedengan-bedengan yang lebarnya 100 cm, sedangkan lebar paritnya 20 cm.

Setelah berumur 1 bulan sejak semai (kira-kira berdaun 4-5 helai) bibit dipindahkan ke bedengan. Tiap bedengan dibuat 3 baris tanaman. Bibit tersebut ditanam menurut barisan dengan jarak tanam 40 cm dan jarak antarbaris 40 cm. Bibit yang ditanam hanyalah yang sehat, kuat, dan subur tumbuhnya. Penanamannya satu per satu dan secara hati-hati. Sebaiknya akar tanaman disertai sedikit tanah agar tidak layu.

Tanaman diberi pupuk buatan 2 kali berupa urea dan TSP dengan perbandaingan 2:1. Untuk tanaman seluar 1 ha diperlukan 350 kg urea dan 180 kg STP. Pupuk diberikan bersamaan waktu tanah didangir sedalam 5 cm dari batang tanaman dengan ketentuan TSP diberikan sekaligus, sedangkan urea diberikan 2 kali. Urea pertama kali diberikan 180 kg/ha saat tanaman umur 1,5 bulan. Sementara pemberian ke-2 kali setelah tanaman umur 2 bulan sebanyak 180 kg/ha.

b. Pemeliharaan Tanaman
Memelihara tanaman petsai di antaranya memberantas ulat daun dan cendawan sehingga tidak merusak tanaman. Serangan ulat perusak daun (Plutella maculipennis) dan cendawan (Altenaria solani) menyebabkan daun berbintik-bintik dan berbentuk lingkaran kosentris merah yang akhirnya menjadi kehitam-hitaman. Ulat daun banyak berkeliaran pada waktu hujan rintik-rintik mulai turun.

Jika belum terlambat, ulat daun itu dapat diberantas dengan semprotan insektisida 0,2% tiap minggu. Sementara cendawan Altenaria dapat diberantas dengan semproptan fungisida Dithane-45 0,2%. Akan tetapi, jika terlambat pengobatan akan sia-sia belaka.

Selain hama dan penyakit di atas terdapat penyakit yang disebabkan bakteri. Bakteri busuk daun Xanthomonas campentris dan bakteri busuk batang Erwinia carotovarus pada tanaman kubis juga mengancam petsai. Penyakit busuk batang ini sering mengancurkan tanaman petsai.

c. Pemanenan
Panen dapat dilakukan setelah tanaman berkrop besar (penuh) yakni kira-kira umur 2,5 bulan dari waktu sebar. Tanaman yang terawat dengan baik dapat menghasilkan krop 15-20 ton/ha. Hasil produksi petsai saat ini masih untuk konsumsi pasar local. *cip/berbagai sumber

Sumber : http://www.bisnisbali.com/
0 komentar

Cara Budidaya Jeruk yang Efektif

Buah jeruk merupakan salah satu jenis buah-buahan yang cukup banyak digemari oleh masyarakat.

Bukan hanya rasanya yang manis dan segar, kandungan vitamin C yang tinggi membuat banyak praktisi kesehatan menganjurkan untuk mengkonsumsi jeruk secara rutin.

Kandungan vitamin C di dalam tubuh sangat bermanfaat untuk antioksidan dan menangkal radikal bebas.

Selain senang mengkonsumsinya, Anda juga sebaiknya mengetahui ihwal cara budidaya jeruk yang biasanya dilakukan oleh kalangan petani jeruk. Siapa tahu suatu ketika Anda tertarik untuk menanam dan membudidayakannya.

Pada dasarnya, ada beberapa cara untuk mendapatkan bibit jeruk yakni bibit dari bijinya, dan dari hasil cangkokan atau teknik okulasi.

Dari ketiganya, yang biasa dilakukan oleh para petani jeruk berskala besar ialah cara kedua dan ketiga karena dinilai lebih efektif dan cukup mudah prosesnya.

Berikut merupakan kedua cara yang sering dipilih oleh para petani jeruk tersebut.

Cara Mencangkok

Pastinya Anda yang sudah cukup familiar dengan teknik mencangkok suatu tanaman tertentu, bukan?

Teknik cangkokan pada tanaman lain relatif sama dengan cara mencangkok untuk memperoleh bibit jeruk ini. Cangkokan untuk memperoleh bibit jeruk unggul biasanya diperoleh dari indukan yang dianggap berkualitas baik.

Harus diingat bahwa dahan induk jeruk yang akan dicangkok tidak boleh memiiki diameter kurang dari 1 cm. Jika Anda sudah menentukan bagian dahan mana yang akan dicangkok maka selanjutnya mengupas kulit dahannya dengan lebar sekitar 1-3 cm.

Langkah selanjutnya, bagian dahan yang sudah dikelupas itu kemudian ditutup dengan medium tanah, dan akhirnya dibalut dengan sabut kelapa atau bisa juga dengan menggunakan plastik yang telah dilubangi untuk sirkulasi udaranya.

Jangan lupa untuk menyiraminya setiap hari supaya cangkokannya tidak kekurangan air dan subur. Dalam beberapa hari kemudian, cangkokan tersebut biasanya akan tumbuh akar.

Apabila akarnya sudah panjang, menandakan bahwa cangkokan tersebut bisa dipotong untuk ditanam di lahan yang sebelumnya sudah dipersiapkan.

Cara Okulasi

Cara okulasi merupakan cara lainnya yang populer untuk memperoleh bibit dalam budidaya jeruk. Cara ini dilakukan dengan menempulkan tunas atau cabang muda tanaman tertentu pada batang tanaman yang lain.

Mula-mula Anda harus menyemai dulu biji jeruk dan ditanam sampai akhirnya menjadi pohon jeruk yang nantinya akan ditempeli dengan tunas dari pohon jeruk yang lain.

Hasil okulasi tersebut bisa dipotong di bagian puncaknya setelah berkayu dan keras. Dan kemudian hasil okulasi itu bisa ditempatkan di lubang yang sudah dipersiapkan sebelumnya.

Cara Menanam Bibit

Waktu terbaik yang biasanya digunakan untuk menanam bibit jeruk ialah pada musim penghujan menjelang peralihan ke musim kemarau.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum menanam bibit jeruk, salah satunya ialah kondisi tanah di dalam lubang yang telah dibuat apakah sudah basah dan kelihatan gembur atau belum.

Ukuran lubangnya harus bisa menampung semua bagian akar yang banyak cabangnya. Begitu juga, lubang tersebut sebelumnya harus sudah diberikan pupuk kandang dan NPK atau campuran dari KCL, urea dan TSP dengan perbandingan 2:1:2.

Jarak antar lubangnya berbeda-beda tergantung jenis bibit jeruk yang ditanam.

Untuk jeruk yang berukuran besar jaraknya harus 8 x 8 meter, sedangkan untuk jeruk kecil (keprok) jaraknya 5 x 5 meter. Untuk ukuran jeruk manis jaraknya bisa disetting 6 x 6 meter.

Pengaturan jarak tanam tersebut tentu sangat penting karena sangat menentukan tumbuh kembang tanaman jeruk, disamping juga untuk memudahkan masuknya sinar matahari.

Untuk dicatat bahwa pohon yang terlalu berhimpitan satu sama lainnya akan menyebabkan pohon jeruk mudah terkena penyakit dan agak terhambat perkembangannya.

Itulah beberapa hal yang harus diperhatikan terkait dengan cara budidaya jeruk yang efektif dan produktif

Semoga bermanfaat!

Sumber :
http://www.teruskan.com/19532/cara-budidaya-jeruk-yang-efektif.html
0 komentar
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Window37 - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger